Apa Panggilan Perawat? Suster, Mantri, atau Ners?

fkep unpad 2011
 

Istilah suster merupakan istilah yang sering disandangkan untuk seseorang yang berprofesi sebagai perawat di klinik atau rumah sakit. Namun ke depan istilah suster atau mantri, yang sering ditujukan buat perawat laki-laki, mungkin tidak akan lagi digunakan.

Sebutan suster dan mantri sudah mulai digantikan dengan istilah Ners.

Istilah Ners merupakan istilah pengganti yang diberikan kepada perawat yang sudah menyelesaikan pendidikan akademik pada Program Studi Ilmu Keperawatan (S-1) dan Program Pendidikan Profesi Ners.

Panggilan Ners akan menggantikan suster maupun mantri, untuk itu perlu sosialisasi, agar masyarakat tau makna dari perubahan tersebut. 

Adanya tuntutan profesionalisme didalam tubuh keperawatan, meminta keperawatan menata kembali sistem pendidikannya, dimana pendidikanlah yang dianggap sebagai pabrik penghasil tenaga keperawatan.

Sistem pendidikan keperawatan bergeser dari pendidikan vocasional (D3 keperawatan) ke jenjang pendidikan First line profesional degree, yaitu program pendidikan profesional tahap pertama yaitu pendidikan sarjana keperawatan dan program pendidikan profesi Ners.

Sebagai seorang lulusan Fakultas Keperawatan, saya kerap mendapatkan sebutan "dok" oleh pasien atau keluarga pasien. Memang ada sebagian dari rekan sejawat saya yang merasa bangga dengan sebutan tersebut, namun saya pribadi merasa bahwa sebutan "dok" untuk perawat laki-laki sungguh tidak dibenarkan baik secara de facto maupun de jure.

"Perawat perempuan kan dipanggil suster, lalu perawat laki-laki dipanggil apa?" Ini merupakan pertanyaan yang sering bikin saya tersenyum dalam kebingungan lalu mencoba mencari pengalihan.

Beberapa teman sejawat saya juga mencoba mengkampanyekan diri untuk disebut dengan panggilan Ners, sebuah kata yang diserap dari bahasa inggris Nurse lalu di-Indonesiakan sebagai Ners. Sebutan ini juga ditujukan kepada Sarjana Keperawatan yang telah menamatkan pendidikan profesi Ners.

Memang pernah ada yang memanggil saya dengan sebutan Brudder. Ya, brudder dan suster memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan, namun sekali lagi sebutan brudder yang merupakan lawan kata dari suster juga tidak familiar bagi masyarakat.

Mungkin sebutan mantri masih sering dipakai. Namun silakan buka KBBI. Makna mantri sendiri tidaklah spesifik kepada tenaga kesehatan.

Arti dari kata mantri menurut KBBI adalah, "memiliki makna pangkat atau jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas (keahlian) khusus. Misal mantri hewan yang bertugas memberikan penyuluhan tentang peternakan di daerah."

Di Indonesia, belum terbiasanya Perawat dipanggil dengan gelar profesinya. Baik oleh masyarakat, oleh sejawatnya, maupun dari insan kesehatan, karena belum serangamnya julukan atau panggilan yang tepat untuk profesi Perawat. 

Kecendrungan, Perawat dipanggil namanya saja atau kalau Perawat senior akan dipanggil Pak atau Ibuk. Bahkan, didaerah tertentu Perawat dipanggil sebagai mantri dan bruder (laki-laki) dan suster untuk Perawat perempuan.

Padahal, Perawat merupakan suatu profesi, pengakuan tersebut dikukuhkan saat Lokakarya Nasional di Jakarta Januari 1983 dan secara konstitusi diakui pula dengan lahirnya Undang-Undang Keperawatan Nomor 38 Tahun 2014. Jadi tidak ada yang bisa membantah bahwa Perawat adalah profesi.

Pada Bab IV Undang-Undang Keperawatan Nomor 38 Tahun 2014 tentang  STR (Surat Tanda Registrasi) menjelaskan Perawat adalah profesi yakni memiliki ijazah pendidikan tinggi Keperawatan. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi.Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. 

Bagi lulusan pendidikan profesi Ners, mereka sepakat dipanggil sebagai Ners, hal itu diakui pula secara akademik oleh universitas tempat penyelenggara pendidikan tinggi Keperawatan.

Sebutan Ners sebaiknya disosialisasikan sebanyak banyaknya, kalau sudah terbiasa perlu dilegitimasi dengan keputusan dan konsensus.