Persetubuhan Pertama

sensual
Foto: Ava Sol / Unsplash

Banyak seperti kita akan mengisi dunia, hidup, menciptakan makhluk-makhluknya sendiri, menjadi rumit dan cantik.Adam tersenyum tipis. Semoga, katanya. Ia menjatuhkan diri ke pasir abu-abu halus di lantai gua dan mengulurkan tangan untuk meraih tangan Hawa dan menuntunnya duduk di sampingnya. Adam memeluk bahu Hawa. Hawa merapat ke dada Adam. Mereka sudah seperti ini berkali-kali, menatap sungai, padang rumput, hujan di dalam hutan, tapi kali ini kebutuhan untuk bersama, agar kulit mereka bersentuhan, memiliki intensitas yang aneh. Hawa membenamkan hidungnya di dada Adam. Hawa bernapas dalam keharumannya. Adam meletakkan kedua tangannya di rambut Hawa, juga menciuminya.

"Ini aneh," kata Hawa. "Aku ingin kembali ke tubuhmu, kembali ke tulang rusuk tempat kau bilang aku berasal. Aku ingin agar kulit yang memisahkan kita bisa lenyap."

Adam tersenyum dan mendekap Hawa lebih erat. Ia juga menginginkan hal yang sama, katanya sambil menyentuh bahu Hawa dengan bibirnya. Adam ingin melumatnya seperti buah terlarang. Hawa tersenyum. Hawa meraih tangan Adam dan memasukkan satu per satu jari Adam ke dalam mulutnya, melumat dan meremas jari-jari itu. Kulit Adam yang asin masih mempertahankan cita rasa ara terlarang. Adam memandangi takjub Hawa melakukan itu, merasakan di jari jemarinya kehangatan lembut dan cair mulutnya, bak siput laut. Apakah Hawa memiliki laut dalam dirinya? Apakah ia juga? Jika tidak, lalu air pasang apakah yang tiba-tiba ia rasakan di pangkal pahanya, bangkit dari kaki dan meledak di dadanya, membuatnya mengerang? Adam menarik tangannya dari perasaan tak tertahankan dan menyelipkan kepalanya ke lekuk leher Hawa. Hawa mengangkat kepala, menghela napas dan dengan demikian lehernya pun meliuk. Adam melihat mata Hawa terpejam dan mengusapkan dengan lembut kedua tangannya di atas buah dada Hawa, mengagumi kelembutan, warna, dan rasa puting merah muda kecil itu, yang tiba-tiba mengeras di bawah sepasang tangannya, sebagaimana kulit penisnya yang kaku,dengan tiba-tiba dan seolah tergerak oleh kehendaknya sendiri, telah kehilangan kelesuannya dan berdiri mengacung seperti jari yang tidak proporsional dan dengan tegas mengarah ke rahim Hawa. Hawa, dengan tubuh menegang, melepaskan hasrat untuk menjilati sekujur tubuh Adam. Segera, di lantai gua, mereka menjadi bola dari kaki, lengan, tangan, dan mulut yang saling berkejaran antara erangan dan tawa, berusaha untuk saling mengenal dan mengagumi tanpa tergesa apa yang mendadak dikuak oleh tubuh mereka, kelembaban tersembunyi dan ereksi tak biasa, efek magnetik bertautnya mulut dan lidah mereka sebagai jalur penghubung rahasia di mana lautan yang satu meledak di pantai yang lain. Tak peduli sebanyak apa mereka bersentuhan, hasrat untuk itu tak kunjung terpuaskan. Mereka sudah bermandi keringat ketika Adam merasakan dorongan tak terbendung untuk menabur arus yang menggelegak di pusat tubuhnya ke dalam tubuh Hawa, dan perempuan itu, yang dibekali pengetahuan, tahu bahwa ia harus membuka jalan ke dalam dirinya, di tempat yang ditunjuk oleh anggota tubuh mengejutkan yang muncul tiba-tiba pada Adam di antara kaki-kakinya. Akhirnya satu di dalam yang lain, mereka mengalami keriangan kembali menjadi satu tubuh. Mereka tahu bahwa selama mereka begitu adanya, takkan pernah lagi ada kesepian bagi mereka. Bahkan jika mereka tidak memiliki kata-kata dan keheningan mengisi pikiran mereka, mereka bisa bersama dan berbicara tanpa berkata-kata. Saat itu mereka berpikir bahwa tak syak lagi inilah pengetahuan yang Ular katakan akan mereka kuasai saat makan buah dari pohon itu. Berayun melawan satu sama lain, mereka kembali ke Ketiadaan, dan tubuh-tubuh mereka, yang pada akhirnya meluap, tercipta baru untuk menandai awal dari dunia dan Sejarah.

*
Nukilan dari Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya (Marjin Kiri, 2019) oleh Gioconda Belli.