Masokis Emosional

shinji ikari evangelion

Selalu ada orang yang doyan makan sesuatu yang pedas, berkeringat deras dan tampak menderita tapi mengklaim kalau dia benar-benar menikmatinya. Sambal hot jeletot bukan satu-satunya cara orang untuk menikmati sesuatu yang menyiksa diri, banyak orang suka menonton film sedih, mendengarkan musik murung atau menaiki roller coaster yang bikin jantung copot.

Fenomena ini disebut benign masochism, sebuah istilah yang diciptakan oleh psikolog University of Pennsylvania Paul Rozin dan Kendra Pierre-Louis. Masokisme jinak ini merujuk pada daftar kegiatan yang tampaknya tidak menyenangkan yang banyak orang hindari, namun malah dinikmati. Rozin menjelaskan mengapa dalam makalahnya untuk jurnal Judgment and Decision Making berjudul 'Glad to be sad, and other examples of benign masochism':
Masokisme jinak merujuk pada menikmati pengalaman negatif yang awalnya diartikan tubuh (otak) sebagai ancaman. Kesadaran bahwa tubuh ini telah dibodohi, dan bahwa tidak ada bahaya nyata, mengarah pada kesenangan yang berasal dari 'pikiran atas tubuh.'
Istilah masokis ini berasal dari nama Chevalier Leopold von Sacher-Masoch, seorang Austria yang banyak menulis tentang kepuasan yang didapatnya dengan dipukuli dan diperlakukan layaknya budak. Umumnya masokis mempertahankan kontrol atas situasi dan akan mengakhiri perilaku kasar sebelum menjadi terluka parah. 

Konsep yang bisa diterapkan pada pengalaman fisik negatif dari tindakan-tindakan seperti ketika lidah kita terbakar berkat bumbu cabai merah atau sensasi jatuh di luncuran roller coaster.

Masokisme Perasaan

Meski fenomena masokisme dimulai dan tetap terhubung sepenuhnya dengan seks, ia sama kuatnya di ranah emosional. Mungkin ada lebih banyak masokis emosional ketimbang yang seksual, dan bisa jadi kita tak menyadari kecenderungan ini.

Yang menandai masokis adalah ketidakmampuan mereka untuk keluar dari perasaan muram. Dalam hubungan romantis, atau bahkan segala jenis hubungan interpersonal lain, masokisme bisa berujung berbahaya. Mereka tidak bisa membayangkan hidup tanpa orang lain yang membuat hidupnya tak tertahankan. Ambil dua mitra potensial. Opsi satu sifatnya baik dan dapat diandalkan, tak rumit dan baik hati, pokoknya prospek yang sempurna. Yang lainnya adalah tantangan dan bencana. Apakah kamu akan lebih memilih opsi kedua? Jika demikian, kamu menunjukkan kecenderungan masokis emosional.

Saya sendiri tampaknya masuk golongan masokis itu. Dengan tambahan insekuritas, entah kenapa saya sering berpikir ketika dihadapkan pada prospek yang terlampau sempurna justru saya sering merasa kalau itu sesuatu yang harus dihindari, sesuatu yang tak mungkin bakal saya terima.

Masokis emosional mencari hubungan yang rumit berulang kali. Secara tidak sadar, mereka percaya bahwa ketakutan, seringkali ketakutan kehilangan seseorang, memicu hasrat dan keinginan. Keakraban justru merusak fantasi jatuh cinta, sebuah tantangan, bagaimanapun, membuat indra itu kelebihan beban. Jika semuanya indah setiap saat, mereka pikir akan cepat bosan.

Masokis emosional dapat dibagi menjadi tiga kategori: mereka yang mencari situasi yang menantang (berkencan dengan yang sudah menikah, misalnya); mereka yang mencari kepribadian yang menantang (seperti mencari pasangan yang depresi), dan mereka yang menciptakan tantangan dan yang menghasut perpecahan padahal tak ada yang salah, hanya untuk mencapai sensasi tersiksa.
Seperti halnya masokisme seksual, masokisme emosional berakar pada kecurigaan diri. Sisi yang kuat dari mereka mencurigai bahwa mereka tidak lebih dari tai. Jika seseorang memasuki orbit mereka dan mengatakan sebaliknya, jika mereka mulai memuji mereka, para masokis emosional mungkin malah tersedak rasa jijik karena menganggap mereka tidak memahami kebenaran sesungguhnya. Masokis emosional sebagai gantinya akan dengan kuat mengarahkan energi mereka ke arah hubungan dengan orang-orang yang perilakunya akan sesuai dengan penilaian diri mereka sendiri: mereka yang punya jaminan bakal bertindak sarkastik, tidak setia atau dingin.

Pada akhirnya, perbedaan antara masokis seksual dan emosional adalah bahwa yang pertama cenderung mengetahui dengan baik bahwa inilah mereka. Untuk berhenti menjadi masokis emosional, oleh karena itu penting untuk mulai melihat cara-cara ketika seseorang terlibat dalam sabotase diri dan telah membuat semacam komitmen bawah sadar untuk kesepian dan frustrasi. Terkadang diperlukan pengamat luar untuk menganalisis masalah dan melihat apa yang terjadi. Ini pola yang sulit dikenali, tetapi begitu kita menemukannya, jauh lebih mudah untuk dicari penyelesaiannya.

Saya sendiri dilabeli masokis emosional ketika curhat karena habis patah hati. Sebelumnya saya belum tahu istilah ini. Seringnya ketika berhadapan dengan perasaan-perasaan baru dan tak dikenal, saya bakal mencari penjelasan ilmiahnya, dan entah kenapa selalu merasa tenang setelahnya. Maka saya cari penjelasan masokisme emosional ini.

Perbedaan yang paling relevan antara masokisme seksual dan emosional adalah bahwa aktivitas yang pertama, dalam keadaan yang tepat, akan sangat menyenangkan, sedangkan yang terakhir tidak pernah jadi apa-apa selain neraka pahit yang melelahkan.

Kita berhutang pada diri kita sendiri untuk mulai melihat bahwa kita mungkin sudah terlalu lama menahan diri, bukan karena kekusutan atau kebutuhan apa pun, hanya karena masa lalu kita secara tidak adil telah mengilhami kita dengan perasaan yang mengerikan, dan mengarahkan diri pada kecenderungan masokis emosional tadi. Hidup adalah yang pantas kita dapatkan. Meski perlu dicatat, beberapa orang mungkin berkembang ketika hidup mereka adalah roller coaster emosional.